Rabu, 07 April 2010

Badai Merah

kau sulam tetes-tetes air
menjadi hamparan air
menyapu yang termanis
hingga yang terpahit
tiada jelas rasa yang berkecamuk
ketika angin ikut melebur duka
tanpa bersuara
hamparan air itu
membasuh semuanya
menjadi badai semerah darah
bergerak seperti jantung
yang tiada henti berdetak

1 komentar:

ilmu antropologi mengatakan...

salam kenal...