Senin, 03 Maret 2008

life,...for the rest....

life,..in the name of it,..
i breathe,..
life,..for the need of it,..
i eat,..
life,....on behalf of it,..
i bleed,..
life,...what am struggle with,...
and i cried,..
for so many times,..
life torturing destiny,...
and rape faith,..
life,.....and the rest,..
is yet to come,..

Kamis, 14 Februari 2008

am not sure

since its rain,..
i never sure,...about the tears that i cried,..
weather its salty.
or bitter,..
i know its wet!!
for the rest of days,
i never sure,..weather i want to lay,...
or just sit and stay,..
i know am not going anywhere
and,
am not sure either..
weather am enjoying your company,..
but am not asking u to go,..
i know you were here,..
and my self,..deep down inside,..
i snab your shadow over and over again...

Arti keberadaan hati dan kognisi,..

Pagi ini aku terlibat percakapan dengan salah seorang teman kantorku. Kami membicarakan masalah keseimbangan hati dan kognisi. Sebagai perempuan, temanku sering kali terjebak " membuat keputusan dengan hati"!. Itu bukan sesuatu yang aneh, jika itu dilakukan oleh seorang wanita, apalagi ketika dia terlibat masalah cinta. Dan banyak orang yang berpendapat, bahwa kata hati tak pernah salah!!
Sebenarnya, aku tidak begitu "ngeh" dengan pendapat itu. Karena aku pernah terjebak oleh kata hatiku sendiri, dan rasa yang ditinggalkannya sungguh tidak enak. Dari pengalaman itulah aku kemudian belajar membuat keputusan dengan cara yang lebih "aman", baik bagi hatiku maupun otakku.
Sejauh ini, antara hati dan kognisi, jarang bisa berjalan beriringan. Contohnya, ketika hati menginginkan sesuatu, seperti kita menginginkan es krim disaat kita demam, biasanya hati akan dengan mudah menemukan alasan untuk membuat es krim itu bisa kita nikmati dalam keadaan demam. Contohnya, "ah nggak masalah lah, secara udah demam juga, jadi sekalian aja!". Ini brarti es krim halal dimakan ketika kita demam. Padahal, kalau kita menggunakan otak lebih dahulu, persepsi yang akan keluar adalah sebagai berikut : dalam keadaan demam, kalau makan es krim, penyakitnya akan bertambah parah, dan akan lebih lama sembuh. Artinya, kalau ingin makan es krim lagi, harus menunggu sampai benar - benar sembuh!! Dan itu akan makan waktu, lebih lama dari pada demam, tanpa makan es krim. Kalau kita larikan kembali pada keinginan hati, artinya kerinduan pada es krim akan lebih lama bisa terobati akibat keinginan hati disaat yang slaah tersebut.
Jadilah, dengan analogi sederhana itu, aku membalik cara membuat keputusanku. Aku, akhirnya, meletakkan semua alasan logis didepan, dan memberi sentuhan akhir dengan meletakkan unsur hati dibagian akhir dialogku, agar tidak terjebak dalam keputusan yang dingin dan kaku. Selama ini, cara ini cukup berhasil, dan aku bisa menghasilkan sesuatu yang kusebut "logika berperasaan". :P

Rabu, 13 Februari 2008

sekotak coklat untuk berduka,..

tak ada yang istimewa,..
hanya pagi dengan hujan rinai,..
kata temanku,..
hari ini valentine,.
hari kasih sayang,
hari berbagi coklat,
aku jadi menginginkan sekotak coklat,..
dari kekasihku,..
aku menghubunginya,..
mencari kata termesra yang ku bisa,..
hari ini hari kasih sayang,..
hari berbagi coklat,..
kataku padanya,..
tidak kah kau akan menghadiahi ku coklat,..
lantas dia menjawab,..
pagi ini nenekku meninggal,..
"aku telah kehilangan sumber kasih sayangku,..
dan itu tidak akan sebanding dengan sekotak coklat yang kau minta"
katanya padaku,..

Minggu, 10 Februari 2008

Mati Bosan

Kebosanan,..membunuh ku berkali-kali
Aku mati berkali-kali!!
Tapi aku bernafas setiap hari!
Otak ku terpenjara dalam ruang berdinding putih,..
suram dan kumuh,..
berbau comberan,.
hanya otakku!!
aku punya tubuh, yang tertinggal diluar
tubuhku menangis dalam amis,..
tertawa dalam pesing dan comberan,..
ada hujan yang membasuh korengku,..
ada petir yang menangkap senyumku...
namun tak ada pelangi yang melarikan bosanku
bosan itu tetap disana,..didalam otakku!
cukup lama,..hingga membunuh
denyut-denyut jiwaku
dan menghampakan tubuhku,..
menyisakan mata yang terpana,..
tak pasti!!

Senin, 28 Januari 2008

Sebuah Kehilangan

Pada tanggal 27 Januari 2008 kemarin,..bangsa ini separuh berduka,..separuh tak rela. Pada hari itu, H. Soeharto telah berpulang ke haribaan Illahi dengan meninggalkan berjuta tanda tanya dan ketidak puasan dihati banyak rakyat Indonesia. Sudah sejak lama Soeharto sakit, terutama setiap menghadapi sidang tuntutan kasus-kasusnya dimasa lalu. Banyak berpikir kalau dia sengaja berpura-pura sakit agar tidak disidang, dan tidak mendapat hukuman atas kesalahan masa lalunya. Padahal, mungkin saja hal itu bukan bohongan. Karena pada waktu kejatuhannya dia sudah sangat tua dan rapuh, yang menyebabkan dia rentan terhadap tekanan dalam bentuk apapun. Termasuk rentan terhadap tekanan kesalahan masa lalunya.
Namun sebagai seorang manusia, yang berharap bisa menjadi lebih baik dari seorang Soeharto, menjadi lucu ketika mengingat kondisi itu. Seolah niat keadilan kita, untuk menuntut kejahatan Soeharto di masa lalu, menjadi penyebab Soeharto bulak-balik masuk rumah sakit. Seolah kita menakuti-nakuti beliau dengan sidang yang memang seharusnya dia jalani. Dan kita merasa menjadi orang jahat, yang menyiksa orang yang lemah. Dan sepertinya hal itu berhasil menimbulkan sedikit rasa bersalah dihati para petinggi kita. Hal ini membuat mereka berkesimpulan bahwa, diiusianya yang senja dan sakit-sakitan, mungkin kita harus bersikap sedikit lunak dan memaafkan segala kesalah beliau. Kita tidak boleh menjadi bangsa pendendam, harus bisa memaafkan kesalahan orang yang bagaimanapun telah berhasil memimpin bangsa ini selama 32 tahun, walau kita berakhir sebagai bangsa yang kurang berhasil. Suatu niat yang sungguh mulia, dan patut dihargai.
Ketika kita menghitung harga maaf itu, sebagai orang yang akan memberi maaf itu, sewajarnya saja kita berpikir jumlah maaf yang kita harus berikan ( hukum ikhlas biasanya terkesampingkan pada kasus kenegaraan seperti ini :P ). Dan wajar saja kalau kita sampai pada perhitungan akhir bahwa jumlah maaf dalam kurun waktu 8 tahun ini tidak cukup untuk memaafkan kesalahan yang telah terjadi selama 32 tahun, karena waktu untuk memaafkannya tidak seimbang. Dan pada akhirnya kita sampai pada kesimpulan, bahwa masih ada yang tidak puas dengan keadaan ini, dan kita juga harus memaklumi hal tersebut.
Sekarang ketika Soeharto sudah tidak ada, selain mewariskan hartanya, dia juga mewariskan jejak hitam, bukan hanya pada anak cucunya, tapi juga pada kroninya. Bukan hal yang aneh lagi, kalau kondisi Pak Harto yang sudah tua dan sakit-sakitan itu kemudian menjadi inspirasi bagi para kroninya, untuk berpura-pura sakit juga ketika akan disidang. Walau Pak Harto tidak memerintahkan hal itu, tapi sebagai kader yang setia, mereka mencontoh plek-plek kepada pemimpinnya. Bahkan sampai terlihat konyol, karena mereka bertingkah seperti orang yang sudah sangat lemah diusia yang jauh lebih muda daripada Pak Harto yang memang sudah uzur itu.
Dan sekarang ketika, Sang Patron sudah tidak ada, mungkin kita dapat menyaksikan tontonan baru. Bukan lagi, tontonan adegan mengimitasi tindakan Pak Harto, tapi mungkin lebih seru dan lebih ribut lagi. Karena sewajarnya lah anak ayam akan ribut ketika induk mereka meninggalkannya,...
Selamat Jalan Bapak,..Jasa dan dosamu akan tetap kami kenang,....

Selasa, 15 Januari 2008

kau dan bulan biru

setiap malam,
aku ingin kau muncul
bersama bulan biru.
sambil memetik melodi
dari dawai-dawai gerimis
malam yang lembab ini.