Kau mengerti kekasihku,
Kala kujaga kau tetap sehangat mentari
Kulepas kau menari,
kala hujan berhenti.
Aku tak ingin kau sepi,
saat aku menatapmu
Maka kubiarkan kau bernyanyi
antara nyanyian menyambut pagi,
hingga soneta yang menyapa senja.
Kau seperti bersabda disetiap katanya
Saat aku menyentuhmu,
aku tak ingin kau terluka
Aku menyentuh bayangmu
tak kan ada merah dalam bayang-bayang
hanya warna abau-abu meragu
Seperti aku yang hendak mencumbumu
namun tak pernah kusentuh ragamu
pun, mengintip ke balik tirai jiwamu
Aku hanya bersidekap
dan menatapmu lekat-lekat
Sementara kau,
berlalu dalam sekelebat,
tanpa bisa kucegat!
Minggu, 13 Januari 2008
Kamis, 10 Januari 2008
Untuk Ibu...
Selasa, 08 Januari 2008
Bimbang

Aku meragu,...
Hinggap dari satu bunga layu,
Terkatup bersama pohon perdu
Aku mengeryit sakit,
ketika hendak bangkit.
Menatap luka yang menganga,
seakan aku bertarung dengan singa.
Jiwaku nelangsa,
terkurung diantara tombak-tombak serigala.
Aku tak mengerti ketika mereka menari,
meraung dengan taring dan cakar
menggertak langit.
Aku seperti ratu dalam noktah merah
kering, tak berdarah
berdiam, meragu untuk pasrah
Dengan jiwaku terkurung,
diantara raungan singa dan serigala,..
jauh disatu sudt,
dihatiku yang masih terjaga,
aku mengharap sembrani datang,
membawaku terbang,
dan melepaskan jiwaku yang bimbang,..
Hinggap dari satu bunga layu,
Terkatup bersama pohon perdu
Aku mengeryit sakit,
ketika hendak bangkit.
Menatap luka yang menganga,
seakan aku bertarung dengan singa.
Jiwaku nelangsa,
terkurung diantara tombak-tombak serigala.
Aku tak mengerti ketika mereka menari,
meraung dengan taring dan cakar
menggertak langit.
Aku seperti ratu dalam noktah merah
kering, tak berdarah
berdiam, meragu untuk pasrah
Dengan jiwaku terkurung,
diantara raungan singa dan serigala,..
jauh disatu sudt,
dihatiku yang masih terjaga,
aku mengharap sembrani datang,
membawaku terbang,
dan melepaskan jiwaku yang bimbang,..
Selasa, 27 November 2007
Senin, 12 November 2007
untuk sebuah kota

aku mencium bau daunnya
dari kejauhan....
bercampur dengan bau keringat
yang ikut mengambang diudara
tak ada mendung yang bergelantung
hanya awan canggung yang berkunjung
kota itu,...
separo seperti mati
bergerak dengan lambat dan sepi
pantai terbengkalai
dengan ombak yang membelai
kota itu ....
memiliki denyut pelan
tak ada orang yang berkejaran,..
hanya ada orang yang berjalan
seperti penguasa waktu,..
kota itu,..
kotaku yang kurindu
dengan orang-orang yang tak bisu
namun tak ada mulut yang beradu
hanya udara,..
yang dihiasi oleh kalbu-kalbu yang menyatu,..
dari kejauhan....
bercampur dengan bau keringat
yang ikut mengambang diudara
tak ada mendung yang bergelantung
hanya awan canggung yang berkunjung
kota itu,...
separo seperti mati
bergerak dengan lambat dan sepi
pantai terbengkalai
dengan ombak yang membelai
kota itu ....
memiliki denyut pelan
tak ada orang yang berkejaran,..
hanya ada orang yang berjalan
seperti penguasa waktu,..
kota itu,..
kotaku yang kurindu
dengan orang-orang yang tak bisu
namun tak ada mulut yang beradu
hanya udara,..
yang dihiasi oleh kalbu-kalbu yang menyatu,..
Kamis, 08 November 2007
JAKARTAA,...PAGI !!!
bus berbagai jurusan,.
menyesak simpangan jalan sempit itu,..
teriak-teriakan memekakan telinga,..
menenggelamkan kokokan ayam ditimur,..
hari memang masih terlalu pagi,..
tapi pertarungan hidup telah dimulai,..
bertarung untuk sesuap nasi,..
atau segenggam berlian,..
mereka melewati jalan yang sama.
dengan mobil sendiri atau mobil bersama,..
memadati jalan kecil, yang kian mengecil,..
mobil berjalan merangkak.
berusaha menembus semak kendaraan dan manusia,...
entah mengejar apa,..
tapi yang pasti,..
setiap pagi kami berdesakan dijalan ini,..
saling memburu,..dalam pelan,..
dalam kemacetan,..
menyesak simpangan jalan sempit itu,..
teriak-teriakan memekakan telinga,..
menenggelamkan kokokan ayam ditimur,..
hari memang masih terlalu pagi,..
tapi pertarungan hidup telah dimulai,..
bertarung untuk sesuap nasi,..
atau segenggam berlian,..
mereka melewati jalan yang sama.
dengan mobil sendiri atau mobil bersama,..
memadati jalan kecil, yang kian mengecil,..
mobil berjalan merangkak.
berusaha menembus semak kendaraan dan manusia,...
entah mengejar apa,..
tapi yang pasti,..
setiap pagi kami berdesakan dijalan ini,..
saling memburu,..dalam pelan,..
dalam kemacetan,..
Rabu, 07 November 2007
tukang es,..
dia seorang tukang es,..
tukang es yang membawakan dingin,..
pada dahaga dan lapar banyak orang
dia berdiri di lampu merah itu,..
dengan segerobak penuh es batangan,.
dia terlihat kepanasan,..
badannya bersimbah peluh
dan wajahnya merah,..
es didepannya terlihat mengeluarkan uap,..
uap dingin,..
dia menanti dilampu merah itu dengan terengah
mulutnya terlihat kembang kempis menghembuskan udara
lega dengan lampu merah yang memberinya istirahat
dia tak beralas kaki,
dan dia juga sudah tua,..
bajunya selusuh lembar hidupnya,..
hidupnya yang kepanasan diantara balok-balok es yang dibawanya,..
aku hanya mengamati dari angkot ini,..
merasa sedih namun tak bisa lebih,..
tukang es yang membawakan dingin,..
pada dahaga dan lapar banyak orang
dia berdiri di lampu merah itu,..
dengan segerobak penuh es batangan,.
dia terlihat kepanasan,..
badannya bersimbah peluh
dan wajahnya merah,..
es didepannya terlihat mengeluarkan uap,..
uap dingin,..
dia menanti dilampu merah itu dengan terengah
mulutnya terlihat kembang kempis menghembuskan udara
lega dengan lampu merah yang memberinya istirahat
dia tak beralas kaki,
dan dia juga sudah tua,..
bajunya selusuh lembar hidupnya,..
hidupnya yang kepanasan diantara balok-balok es yang dibawanya,..
aku hanya mengamati dari angkot ini,..
merasa sedih namun tak bisa lebih,..
Langganan:
Postingan (Atom)
